Cerita seks – Perpisahanku dengan Zeta

dilihat 53 x

Advertisement

Perjalanan Salatiga-Kopeng hanya sekitar 45 menit. Aku sendiri sebenarnya lelah setelah tadi malam kuhabiskan dua rondeku dengan kedua suamiku. Cumbuan Rafi yang begitu lama membuatku benar-benar habis tenaga, belum Mas Hanung yang selalu mengambil babak akhir permainan kami. Mas Hanung memang sangat senang membenamkan kontolnya ke dalam memekku saat aku telah mencapai orgasme. Biasanya ia akan membenamkan kontolnya dan memelukku dengan penuh perasaan sambil menikmati remasan-remasan memekku, bahkan tadi malam sempat kram rasanya otot-otot memekku karena permainan mereka berdua.

ngentot bareng cewek cantik montok.JPG

Advertisement

Seperti biasanya aku meminta Rafi untuk telentang dan membuka kedua pahanya dengan kepala bertelekan 2 bantal, lalu aku menaikinya dengan posisi membelakangi dan bertumpu pada kedua tanganku ke belakang. Posisi ini sangat aku sukai karena Mas Hanung dapat dengan mudah melumat clitorisku sementara Rafi memompa memekku dari bawah sambil meremas putingku. Rasanya semua syaraf nikmatku tak ada yang terlewat menerima rangsangan dari keduanya.

DegradeMySlut_03_05.JPG

Begitu aku orgasme yang ketiga dan Rafi memuntahkan spermanya di memekku, langsung Mas Hanung mengambil alih dengan membenamkan kontolnya ke memekku. Mas Hanung menikmati kontraksi otot-otot vaginaku dan berlama-lama berada di sana, sebelum kemudian memompa memekku dengan penuh perasaan.

1.png

“Kok ngelamun Imel, kita dah nyampe nih..!” ujar Rafi mengagetkanku sambil memasukkan kendaraan ke pelataran villa. Aku tergagap. Kulihat Pak Kidjan penjaga villa kami memberi salam.
“Zeta, bangun sayang, kita udah nyampe nih..!” bisik Mas Hanung.

Yang dibisiki menggeliat sambil mengucek-ucek mata. Kembali dipeluknya Mas Hanung dan mereka berciuman lembut penuh perasaan. Entah mengapa sejak mula pertama Mas Hanung bercinta dengan Zeta tak ada rasa cemburuku, aku malah bahagia melihat keduanya, tapi anehnya aku cemburu kalau Mas Hanung dengan yang lain.

2.png

Pada pukul 17.00 tepat kami sudah selesai memasukkan semua bawaan ke dalam villa dengan dibantu Pak Kidjan. Setelah itu kami suruh Pak Kidjan untuk mengunci pagar dan pulang karena kami katakan bahwa kami ingin beristirahat dengan tidak lupa memintanya agar besok jam 10 dia datang lagi.

Villa ini dibeli oleh Rafi karena sebelumnya memang direncanakan untuk coba-coba usaha agribisnis. Bangunan yang ada hanya sederhana saja karena memang bekas bangunan Belanda yang terletak di tengah-tengah tanah seluas 1 hektar yang di depannya ada rumah penjaga yang jaraknya 75 Zet..an. Ada 4 kamar, yang dua besar dan ada connecting door, salah satunya ada 2 tempat tidur dan yang satunya single, dengan ruang tamu cukup luas, ruang dapur dan garasi. Kami sengaja memakai dua kamar yang besar itu.

 

“Mandi dulu gih..” pinta Mas Hanung pada saya dan Zeta.
“Maas, Zeta dimandiin Mas aja.. Ya” rengek Zeta manja sambil memegang lengan Mas Hanung.
“Idih, kan udah becal, Zeta kan bisa mandi cendili” goda Mas Hanung dicedal-cedalkan.
“Nggak mau.., Zeta mau mandi ama Mas aja” jawab Zeta merajuk sambil cemberut dan langsung minta gendong.

16.png

Aku dan Rafi hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka. Lalu Mas Hanung menggendong Zeta berputar-putar. Bibir keduanya tampak berpagutan mesra. Sambil tetap berciuman mereka menuju kamar mandi, yang oleh Rafi sudah diganti dengan jacuzzi besar yang cukup untuk berendam 4 orang dan ada air panasnya. Lalu Rafi meraihku dan memelukku, kami berciuman.

“Nyusul yok.. Kita bisa saling gosok” ajak Rafi dengan langsung menggendongku.

Di jacuzzi, Mas Hanung sedang memeluk Zeta dari belakang sambil menciumi rambutnya, tapi aku yakin bahwa pasti tangan Mas Hanung yang satu tidak akan jauh-jauh dari puting susu Zeta, sedang yang lain entah apa yang digosok, tapi karena di dalam air dan tertutup busa sabun jadi tidak kelihatan. Sementara itu yang dipeluk memejamkan matanya penuh kenikmatan sambil sesekali mendesis.

15.png

Aku turun dari gendongan Rafi. Kulepas semua pakaianku hingga telanjang bulat, setelah itu ganti kulucuti pakaian Rafi sampai tak bersisa. Kontol Rafi yang besar masih belum bangun penuh, jadi masih setengah kencang. Dengan berbimbingan tangan kami masuk ke air dan Rafi bersandar dekat Mas Hanung. Dengan meluruskan kedua kakinya, aku maju ke pangkuan Rafi, kutempelkan bibir memekku ke atas kontol Rafi dan kutempelkan dadaku ke dadanya. Hangatnya air dan sentuhan kulit kami terasa nikmat, benar-benar nikmat.

Dengan perlahan tapi pasti benda bulat dalam lipatan bibir memekku membesar mengeras dan berusaha berdiri tegak, tapi karena tertahan oleh belahan memekku, benda tersebut tak bisa tegak. Di sebelahku, Zeta juga sedang menduduki barang yang sama seperti aku. Aku tahu pasti, bahkan aku yakin bahwa Mas Hanung masih belum memasukkan barangnya ke memek Zeta. Kami berempat tak ada yang bersuara, hanya sesekali terdengar desahan lirih dari mulut Zeta tetapi kami sama-sama tahu bahwa kami masing-masing sedang menikmati sesuatu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

“Engh.. Egh..” tiba-tiba desahan Zeta semakin keras diiringi geliat tubuhnya yang seperti cacing kepanasan.
“Aduh Mas, Zeta nggak kuat.. Oh Mbak, ooh.. Mas Rafi, ayo dong, Zeta duluan” pintanya.

Kalau sudah begini biasanya Zeta meminta Rafi untuk segera membenamkan kontolnya ke memeknya. Aku beringsut meninggalkan Rafi sementara Mas Hanung masih memangku Zeta dari belakang dalam posisi kedua kaki lurus ke depan dan bersandar pada dinding jacuzzi. Rafi mendekat dari depan sambil mengarahkan kontolnya ke arah selangkangan Zeta dan Zeta memberi jalan dengan mengangkangkan kedua pahanya. Perlahan dengan bimbingan tangan Zeta, kepala kontol Rafi memasuki memek Zeta, jelas terlihat dari ekspresinya yang mendesis keenakan.

ngentot bareng pacar cantik mulus montok.JPG

Perlahan Rafi mulai memompa maju mundur terlihat dari riak air yang mulai menggelombang, sementara Mas Hanung memeluk Zeta dari belakang sambil menciumi tengkuk dan belakang telinganya. Saat-saat seperti itu Zeta nikmati dengan memejamkan mata sambil giginya beradu menahan nikmat yang luar biasa. Meskipun kontol Mas Hanung tidak melakukan penetrasi namun aku yakin, pasti ada yang mengganjal di anus Zeta hingga itu membuat sensasi tersendiri untuknya. Tiba-tiba Zeta melepaskan pelukan Mas Hanung dan ganti memeluk Rafi. Sedang Mas Hanung masih tetap tidak dapat bergerak karena harus memangku dua orang yang sedang bersetubuh. Mas Hanung hanya mengusap-usap punggung dan pinggang Zeta dari belakang.

“Aduhh Mas, Zeta ngga tahaan, enghh..” desah Zeta sambil memeluk Rafi erat-erat dan dada Rafi yang bidang terkena sasaran gigitannya.

Melihat itu semua aku menjadi sangat terangsang tapi kami bertiga sudah bersepakat bahwa kesempatan kali ini adalah milik Zeta sepenuhnya, jadi aku mengalah dulu. Sementara itu kutukar air jacuzzi dengan air hangat tanpa membubuhkan sabun. Begitu air telah mulai berkurang, kulihat posisi Zeta yang mengangkang sementara Rafi memompanya dari depan dan kontol Mas Hanung tertindih di antara bokong Zeta.

Sejenak Zeta masih menikmati saat-saat indah orgasmenya. Kemudian Zeta melepaskan diri dari Rafi dan berdiri membalik menghadap Mas Hanung hingga praktis memeknya berada di depan mulut Mas Hanung. Diraihnya pinggul Zeta dan Mas Hanung mulai menciumi dan menjilati memek Zeta.

“Aahh sshh Mas kita ke kamar aja.. Zeta nggak tahan nih” rengek Zeta. Mas Hanung berdiri menggendong Zeta dan meninggalkan kami berdua sementara Rafi mulai berbalik menciumi payudaraku.
“Imel ikut yuk..” ajak Rafi.

Aku ikut saja sambil berpelukan seperti Adam dan Hawa, kami menyusul Mas Hanung dan Zeta ke kamar besar yang ada single bed-nya. Kulihat Zeta telah telentang dan Mas Hanung menindihnya, sekali-sekali pinggulnya diangkat dan dihunjamkannya dengan penuh perasaan sampai melengkung. Kutarik Rafi dan segera aku telentangkan diriku. Aku ingin kontol Rafi yang masih tegak berdiri segera menusukku mengisi relung vaginaku. Aku ingin mempraktekkan sex yoga yang baru aku pelajari dengan Mas Hanung beberapa waktu lalu.

Sementara Mas Hanung dan Zeta menikmati saat-saat indah itu, di sebelahku Rafi membuka kedua pahaku lebar-lebar dan mengarahkan kontolnya ke memekku yang telah merekah. Perlahan-lahan, mili demi mili aku rasakan benda itu mulai memasuki memekku sebelum akhirnya benda keras itu telah dengan sempurna berada di peraduannya. Kemudian Rafi menindihku dan memelukku dengan sepenuh perasaan. Aku sepenuhnya berkonsentrasi pada apa yang sedang kurasakan dan Rafi mengikutinya hanya dengan diam, tanpa gerakan memompa hingga tanpa diperintah pun saraf-saraf nikmat di sepanjang lorong memekku bekerja, mula-mula hanya gerakan-gerakan halus.

Pada saat yang sama desiran-desiran nikmat juga mulai menjalari kedua payudaraku yang tertindih dada Rafi. Semakin lama gerakan-gerakan halus di sepanjang lorong memekku berubah menjadi remasan-remasan dan mulai terasa getaran-getaran pada batang kontol Rafi, bahkan kepala kontolnya terasa mulai melebar pertanda akan memuntahkan spermanya. Napas Rafi semakin memburu, aku sendiri sudah tak ingat apa-apa. Konsentrasiku hanya satu yaitu pada rasa nikmat yang menggelitiki mulai ujung puting payudaraku sampai ke lorong-lorong memekku. Dan.. Creet.. Creett.. Crett.. Ketika akhirnya sperma itu membasahi relung-relung memekku, jiwaku seakan melayang menari-nari di atas awan sambil berpelukan dengan Rafiku sayang. Sejuta kenikmatan kurasakan di sekujur tubuhku. Sementara itu..

“Oohh.. Ahh aduh Mas.. Zeta mau nyampe lagi Mas..” suara desahan Zeta kembali menyadarkan aku dan kudapati Rafi yang masih ngos-ngosan dengan bermandi peluh mendekapku.
“Terima kasih Imel.. Kamu luar biasa” bisiknya di telingaku. Aku menoleh ke samping. Mas Hanung juga sedang menjelang saat-saat akhir mendekati puncak. Tampak pinggulnya menghunjam selangkangan Zeta dalam-dalam dan..
“Aahh.., adduhh Mmass..” Zeta dan Mas Hanung hampir bersamaan mengejat-ngejat keenakan.

Akhirnya kami mengakhiri permainan sore itu setelah jam menunjukkan hampir pukul 19.00. Rasa lapar akhirnya datang juga mengingat kami belum makan malam. Bergegas kulepas pelukan Rafi, lalu dengan telanjang bulat aku pergi ke dapur. Kubuka bungkusan-bungkusan bekal yang telah aku siapkan. Zeta menyusul juga dalam keadaan telanjang dan akhirnya kami berempat menghadapi meja makan masih dalam keadaan telanjang tanpa ada yang sempat membersihkan diri bahkan dari celeh memekku dan memek Zeta masih tampak meleleh sperma suami-suami kami.

Pagi itu aku bangun lebih awal karena memang aku dapat beristirahat penuh saat malamnya. Kulihat Mas Hanung masih memeluk Zeta berhadapan, sedang dari belakang Rafi tampak memepetkan tubuhnya terutama pada bagian bokong Zeta, pasti batangnya masih menancap.

Kebiasaan Rafi selalu membenamkan kontolnya sambil tidur dan hebatnya tidak lepas, tetap saja kencang di dalam memek. Sedang Mas Hanung pasti tangannya tak mau jauh-jauh dari puting, aku tahu persis kelakuan kedua laki-laki itu karena aku juga sering diperlakukannya demikian, bedanya aku tidak dapat tidur dengan kontol masih mengganjal memekku, sedangkan Zeta bisa, mungkin karena kecapaian.

Dalam hal seks sebenarnya aku sudah puas sekali dipenuhi oleh Mas Hanung dan Rafi tapi kehadiran Zeta kadang membuatku ingin bereksperimen terhadap respons sex yang ditimbulkan oleh sesama jenis. Meskipun aku sudah sering main berempat, tapi biasanya aku atau Zeta hanya bersifat pasif kurang dominan, sedangkan peran utama tetap pada kedua pria itu.

Pernah pada suatu hari Mas Hanung sedang tidak ada di rumah karena ada tugas ke luar kota selama seminggu dan Rafi sedang ada di rumah setelah dari Jakarta selama hampir 5 hari. Kira-kira pada pukul 19.00, Zeta datang ke rumahku. Nampaknya Zeta tahu bahwa aku sedang berduaan saja dengan Rafi. Kami duduk di ruang tamu. Seperti biasa Zeta agak kurang tertarik untuk ML kalau dengan Rafi. Aku pamit ke dapur untuk membuat minuman. Aku sedang menyeduh teh, ketika Rafi tiba-tiba sudah berada di belakangku. Sebelum aku sadar apa yang terjadi, Rafi sudah mendekapku dari belakang.

“Rafi, jangan.. Jangan di sini sayang, aku kan lagi pegang air panas.. Gak boleh.. Ya sayang..” kataku manja sambil berusaha melepaskan diri.
“Imel..”, bisiknya sambil menciumi leher dan telingaku.
“Imel.. Aku kangen banget sama Imel. Kasihanilah aku Imel.. Aku kangen banget”, bisiknya sambil terus mendekapku erat-erat.
“Iya.. Iya tapi kan baru tiga hari masak udah gak sabar..” kataku sambil meronta-ronta manja dalam pelukannya.
“Aduhh. Mbaak jangan gitu.. Mas Rafi sudah ngga kuat tuh.. Nggak kuaat kan Mas”, bisik Zeta tiba-tiba juga sudah berada di belakang Rafi tanpa sehelai benang pun dengan sinar mata penuh nafsu.

Tangan Zeta tiba-tiba meremas buah dadaku, menciumi leher dan belakang telingaku. Tangan kirinya merangkulku dan tangan kanannya tahu-tahu sudah meraba vaginaku sementara pelukan Rafi mengendur memberi kesempatan. Aduh, gilaa, sentuhan Zeta malah melambungkan nafsuku. Kalau tadi aku pura-pura meronta, sekarang aku malah pasrah, menikmati remasan tangan Zeta di puting payudara dan di vaginaku.

Aku dibaliknya menjadi berhadapan, aku didekapnya, dan diciumi wajahku. Dan akhirnya bibirku dikulumnya habis-habisan. Lidahnya masuk ke mulutku, dan aku tidak sadar lagi saat lidahku juga masuk ke mulutnya. Zeta menurutku saat itu agak kasar tetapi benar-benar romantis hingga aku benar-benar terhanyut. Sensasinya luar biasa, baru kali itu aku merasakan nikmatnya sentuhan sejenis.

Tanpa terasa Rafi dan aku pun telah telanjang bulat, entah siapa yang melucutiku, mungkin Rafi. Kalau situasinya memungkinkan, belaian sejenis ternyata malah menjadi lebih nikmat untuk dinikmati. Aku membalas pelukannya, membalas ciumannya. Kami semakin liar. Tangan Rafi menyingkap belahan bokongku dan merogoh ke dalam vaginaku yang sudah basah dari belakang sedang tangan Zeta mengerjai vaginaku dari depan.

Didekapnya clitorisku dan dipijat-pijatnya, diremasnya, dimainkannya jarinya di belahan vaginaku dan menyentuh clitorisku. Kami tetap berdiri. Aku didorong Zeta mepet menyandar ke tubuh Rafi, penisnya sudah tegang sekali, mencuat ke atas. Tangan kananku dibimbingnya untuk memegangnya. Penis Rafi memang lebih besar daripada punya Mas Hanung. Secara refleks penisnya kupijat dan kuremas-remas dengan gemas.

Rafi semakin menekan penisnya ke celah bokongku untuk menerobos vaginaku. Aku paskan di lubangku, dan akhirnya masuk, masuk semuanya ke dalam vaginaku. Rafi dengan sangat bernafsu mengocok penisnya keluar masuk sementara kuangkat satu pahaku dan Zeta telah merosot ke depan selangkanganku untuk mengulum clitorisku yang juga sudah mencuat. Benar-benar kasar gerakan Zeta, tetapi gila, aku sungguh menikmatinya. Sementara penis Rafi terasa mengganjal dari belakang dan nikmat sekali. Aku pegang bokongnya dan kutekan-tekankan agar mepet ke pangkal pahaku, agar mencoblos lebih dalam lagi.

“Rafi.. Zeta.. Aku ngga kuat.. Aduhh.. Kalian.. Curang..” bisikku dengan nafas memburu.
“Ooh.. Meet..”

Cepat kudorong pinggulku ke belakang, sehingga penis Rafi bertambah dalam di vaginaku hingga aku mengejat-ngejat menikmati orgasme.

“Orghh..” Rafi melenguh seperti kerbau disembelih pertanda akan memuntahkan spermanya.

Lalu tangan Zeta segera mencabut dan menggenggam penis Rafi yang memuncratkan spermanya di dalam mulut Zeta hingga sebagian tumpah di lantai dapur. Kami berpelukan lagi sambil mengatur napas kami. Ya ampun, aku telah disetubuhi Rafi dan dioral Zeta dengan posisi Rafi berdiri, sambil mepet ke tembok. Gila, aku menikmatinya, aku berakhir orgasme dengan sangat cepat, walaupun hanya dilakukan tidak lebih dari 20 menit saja. Mungkin ini karena sensasi yang kuperoleh dari permainan dengan sesama jenis juga.

Pagi itu setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, timbul niatku untuk ganti mengerjai Zeta sekaligus memberikan kenangan perpisahan untuknya. Sambil memisahkan pelukan Mas Hanung dengan Zeta, aku yang sudah mandi dan masih telanjang bulat menyelinap di antara tubuh mereka.

“Biar aku yang gantiin peluk Zeta Mas..”, kataku pada Mas Hanung.

Mas Hanung bangun dan langsung ke kamar mandi. Kudekap Zeta, kupegang puting susunya yang sebelah kiri sementara tangan kananku meraba vaginanya. Benar saja di memek Zeta masih terganjal kontol Rafi. Zeta terbangun.

“Aku sayang sama Mbak Imel..”, kata Zeta sambil mencium bibirku.
“Kamu luar biasa deh Zet.. vegymu masih bisa pegang.. the big gun”, bisikku sambil tersenyum. Zeta juga tersenyum nakal, sambil ganti membelai payudaraku.
“Punyaku kencang dan keset ya Mas? Mas Hanung suka bilang gitu. Meskipun udah buat lewat anakku”, tanya Zeta ke Rafi manja. Yang ditanya hanya membuka matanya separuh.
“Mbak, punya Mbak Imel juga masih oke banget kan, nyatanya Mas Rafi selalu ketagihan”, kata Zeta lagi. Kami berdua tersenyum dan mempererat pelukan kami.

Kuciumi Zeta dari kening, mata, hidung hingga mulut. Disambutnya ciumanku dengan permainan lidahnya. Lama kami berciuman dan tanganku pun tak henti meremas teteknya yang kenyal. Lalu kubuka bibir vaginanya. Kemudian kususupkan tanganku ke dalam belahan memeknya di antara kontol Rafi untuk kemudian jari tengahku kutarik ke atas hingga tepat menekan clitorisnya. Memek Zeta telah banjir akibat kelenjar-kelenjar memeknya mengeluarkan cairan karena rangsangan tanganku dan dari kontol Rafi yang mulai ditarik keluar masuk.

“Sshh.. Oohh.. Mbak.. Please.. Sshh.. Don’t stop.. Aahh..” desah Zeta.

Lalu jari telunjukku memainkan clitorisnya yang mulai menegang sementara Rafi memompanya dari belakang dan mulutku telah beralih turun ke putingnya. Kuberanikan untuk menyodok-nyodok memeknya dengan dua jari. Agak kasar.

“Sshh.. Aahh.. Oohh Mbak.. Zeta ngga tahann.. Sshh..”

Zeta mulai mengacak-acak rambutku. Aku merosot ke arah selangkangan Zeta, kuangkat paha Zeta yang kiri dan aku bantalkan kepalaku pada paha satunya. Dengan posisi paha bawah menekuk begini aku dapat leluasa menjilati clitoris Zeta dari depan sedangkan Rafi tetap leluasa memompa dari belakang.

“Ohh.. Mbak.. Mas Rafi.. Aku mau keluar..” Zeta berteriak tidak tahan diperlakukan demikian. Kedua pahanya mulai bergerak akan dijepitkan pada kepalaku sambil terus menggoyangkan pantatnya, tiba tiba Zeta menjerit histeris..
“Oohh.. Mbak bagaimana.. Ini.. Orgghh..” Zeta terus mengejat-ngejat dengan ritmis pertanda dia sudah keluar.

Rafi terus menggenjot pantatnya semakin cepat dan keras hingga mentok ke dasar memek Zeta. Dan.. crett.. crreett.. ccrreett.. Dan keluarlah sperma Rafi dari sela-sela memek Zeta saat sperma Rafi keluar. Aku langsung menyedotnya habis sampai bersih.

Rupanya Mas Hanung sudah selesai mandi dan begitu Rafi mencabut kontolnya dari memek Zeta langsung saja Mas Hanung menggantikan posisi Rafi dengan tidur miring dan memasukkan kontolnya ke memek Zeta dari belakang.

Mas Hanung mulai mengayunkan kontolnya, walau tampak agak kelelahan tapi Zeta berusaha mengimbangi. Setelah agak lama Mas Hanung meminta Zeta untuk berposisi menungging dengan tanpa melepaskan kontolnya. Otomatis Zeta mengangkangiku dalam posisi 69. Aku terus saja mengambil posisi merengkuh bokong Zeta dan mengganjal kepalaku dengan dua bantal agar mulutku dapat pas di clitoris Zeta. Mas Hanung langsung mendorong pantatnya.

Aku terkesiap ketika kurasakan lidah Zeta sudah memainkan clitorisku, sambil meremas tetekku yang dari tadi terbiarkan. Aku pun mengangkat pantatku dan menarik pinggul Zeta hingga kami berpelukan dengan bantalan tetekku dan tetek Zeta. Rasanya jiwaku melayang apalagi saat sesekali aku dapat meraih kontol Mas Hanung untuk kukulum dan memasukkannya lagi ke memek Zeta.

“Aduuhh..,.. Zet..” erang Mas Hanung sambil terus laju memompa memek Zeta, dan dua buah pelirnya memukul-mukul ubun-ubunku.

Tiba-tiba ditahannya pantat Zeta kuat-kuat agar tidak bergoyang. Dengan menahan pantat Zeta kuat-kuat itulah Mas Hanung dapat memompa lebih kuat dan dalam, sedangkan aku dengan susah payah harus melumat clitoris Zeta. Rupanya Mas Hanung kuat juga meskipun telah berkali-kali kemaluannya menggocek memek Zeta tadi malam tapi masih tetap saja tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kelelahan bahkan semakin meradang.

Kulepas mulutku dari clitoris Zeta dan terus kutekan dengan jari tengahku sambil kugosok naik turun seperti bermasturbasi, dan tiba-tiba Zeta mengapit kepalaku.

“Aduuhh.., Mbakk.., Aahh Mas.. Hanung,” kudengar erangan Zeta mulai tidak karuan saat aku terus melakukan gosokan pada clitorisnya.
“Mbak Imel..,.. Aku mau keluar.. Ahhgg..” desahnya lagi.

Mendengar desahan Zetam aku dan Mas Hanung seperti dikomando, semakin gencar melakukan gosokan sambil tanganku naik turun untuk mempercepat rangsangannya dan Mas Hanung mempercepat tempo genjotannya. Dan tak lama kemudian.., seerrtt.., seerrtt kurasakan dua semburan lelehan putih dari bibir memek Zeta serta kedua pahanya semakin mengapit kepalaku kuat-kuat. Lelehan warna putih pekat di tanganku kumasukan mulutku, terasa agak manis asin.

Setelah keRafin-keRafin memek Zeta berhenti, kulihat kontol Mas Hanung yang masih tegar kuraih, kuhisap dan kukulum serta kujilat pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa.., aku merasa ukurannya bertambah besar dan mulai bekedut-kedut. Kuhisap lagi berulang kali sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluan itu. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah. Kugoyang-goyangkan telur kemaluan Mas Hanung.

“Ahh Imeln..” desah Mas Hanung.

Creet.. crett.. Saking kuatnya semprotan dari kemaluan Mas Hanung, kurasakan ada air maninya yang langsung masuk tertelan. Kuhisap terus sampai terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Mas Hanung. Kubersihkan kemaluan Mas Hanung dengan menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakannya. Aku bahagiaa. Sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan melemas. Pada saat telah kecil dan lemas tersebut, aku merasa mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.

Kuangkat tubuh Zeta tidur ke samping. Kami tidak berpakaian. Zeta mulai merapatkan matanya sambil tangannya merangkulku dan tubuhnya yang berkeringat merapat ke tubuhku. Meskipun udara Kopeng dingin, tetapi tubuh kami masih kepanasan berkeringat akibat permainan tadi.

Siangnya pada jam 10.00, kami rapat dengan dihadiri Pak Kidjan penunggu Vila dan memutuskan bahwa pengelolaan usaha yang ada di Jawa termasuk kebun dan villa akan menjadi tanggung jawab Zeta. Zeta hanya menangis ketika kami sampaikan bahwa kami harus pindah, tapi dengan fasilitas dan keuangan yang ia kelola, Zeta akan dapat menyusul kami sewaktu-waktu.

“Kami tak akan pernah melupakanmu Zet..,” itulah kata-kata kami kepada Zeta sebelum kami akhirnya terbang ke Bumi Nyiur Melambai.

Advertisement