Cerita dewasa ngentot febiana anak fakultas hukum

dilihat 2560 x

Advertisement

1330883805

Advertisement

Sejak berpacaran dengan Febiana, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, Andi mulai bergaul dengan teman-teman Febiana. Aktifitas Febiana membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi

Sejak berpacaran dengan Febiana, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, Andi mulai bergaul dengan teman-teman Febiana. Aktifitas Febiana membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi. Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Febiana membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Hukum. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas anak-anak Hukum.

Sebagai anak Ekonomi dan punya pengalaman organisasi lebih banyak dibanding teman-teman Febiana, membuatnya sering memberikan wawasan baru bagi anak-anak Hukum angkatan Febiana.

Di sini juga ia menjadi kenal Nila, yang sama seperti teman Febiana yang lain, sekedar kenal dengannya. Nila sering ikut datang karena statusnya sebagai pacar Boy, salah satu pentolan angkatan Febiana. Tidak ada perhatian khusus Andi kepada Nila, kecuali tentu saja, sebagai laki-laki normal, dadanya yang super. Meski bersikap biasa kepada Nila dan cenderung bersikap sama terhadap teman Febiana yang lain, kelebihan pada tubuh Nila kerap membuatnya tak kuasa melirik lebih dalam, terutama saat Nila memakai baju yang memamerkan lekuk tubuhnya secara sempurna, apalagi kulit Nila putih bersih dan mulus.

Perkenalan lebih terjadi saat Febiana meminta Andi mengantarnya ke kost Nila karena perlu meminjam bahan kuliah. Saat itu pun Andi masih belum sadar Nila itu siapa, dan baru paham setelah disebutkan pacar Boy. Meminjam buku menjadi waktu bertamu yang lebih absolutist setelah Andi dan Nila ternyata punya selera musik yang sama. Obrolan itu masih dalam batas koridor pertemanan, hanya bedanya setelah itu, Andi jadi lebih ingat siapa Nila, batten tidak namanya. Nila sendiri sebetulnya bukan teman akrab Febiana. Bisa dikatakan beda gank, tapi hubungan mereka baik.

Aktifitas mengantar Febiana ke kampus pun kini menjadi lebih menyenangkan bagi Andi karena ia sering bertemu Nila. Namun, sekali lagi ini sebatas karena mereka punya selera musik yang sama. Batten tidak, saat menunggu Febiana berurusan dengan orang lain, terutama di lingkungan organisasi mahasiswa kampus, Andi punya teman ngobrol baru yang nyambung diajak ngobrol. Febiana pun merasa beruntung Andi mengenal Nila karena ia jadi lebih santai mengerjakan sesuatu di kampus terutama jika ia minta Andi menunggunya.

Sampai tiba masa-masa sibuk di organisasi mahasiwa Hukum yaitu pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Rapat-rapat sering digelar untuk merumuskan strategi kampanye. Kasihan kepada Andi, pada suatu hari Febiana tidak minta ditunggu lagi oleh pacarnya itu, tapi ia minta dijemput lagi pukul empat sore, dua jam setelah rapat dimulai. Andi pun memutuskan untuk menunggu di kost-an salah satu teman yang kost di dekat kampus. Sayang, saat tiba di kost-kostan tersebut temannya sedang keluar. Tak habis akal ia menuju kost-an temannya yang lain. Namun, jalan ke kost-an temannya itu melewati kost-an Nila. Dari jalan, yang hanya berjarak sekitar 15 beat dari deretan kamar kost tersebut. Ia melihat Nila keluar dari kamarnya hendak menjemur handuk. Andi melambatkan motornya dan berharap Nila melihat. Dan, harapannya terkabul. Ia akhirnya memutuskan capital di kost Nila sembari menunggu Febiana selesai rapat.

“Febiana lagi rapat ya?”

Nila membuka pembicaraan sambil sibuk menata rambutnya yang basah. Ia mempersilakan Andi duduk di atas karpet karena di kamarnya memang tidak ada kursi. Semua perabot terletak di bawah termasuk sebidang meja kecil tempat Nila belajar.

“Iya. Loe kok ngga ikut Nila?”

“Males. Gue tau pasti lama. Lagian sekarang kan yang rapat pentolan aja.”

“Boy di sana juga?”

“Iyalah, dia kan proyeknya. Masa’ dia ngga dateng. Ini juga gue lagi nungguin dia. Janjian ntar gue jemput jam enam, mau nonton.”

Andi baru sadar kalau ini adalah malam Minggu dan ia belum punya rencana. Dari tadi pandangannya tidak lepas dari rambut ikal sebahu Nila yang basah habis mandi. Ia hanya bisa menelan ludah melihat Nila yang seksi sekali dalam kondisi seperti itu. Aroma yang cukup accustomed baginya merebak dari rambut Nila yang masih basah.

“Shampo loe shampo bayi ya, Deedee kan, rasa strawbery?”

“Hahaha, kecium ya, kok tau sih?

“Yah, elo Nila, gue kan juga pake Deedee. Cemen yah?”

“Buset, orang kayak loe shamponya Deedee? Febiana yang mau apa emang elo yang suka?”

“Gue udah pake shampo itu sejak SMA,”

“Hihihi…, geli gue, lucu aja, liat loe shamponya Deedee,” ledek Nila sambil tertawa geli.

Keduanya terdiam sesaat. Sampai tawa Nila berderai lagi.

“Kok sama lagi sih. Kita emang udah jodoh ketemu kali nih. Jodoh jadi temen gitu maksud gue.”

Nila berusaha meluruskan kalimatnya karena sadar perkataannya bisa diartikan berbeda. Keduanya memang saling nyambung awalnya karena punya selera musik yang sama.

“Mungkin kali ya…., loe bocor sih,” sahut Andi terkekeh.

Obrolan pun terus berlanjut mengalir seperti sungai. Nila yang cerewet selalu punya bahan pembicaraan menarik demikian pula dengan Andi. Uniknya obrolan tersebut selalu nyambung. Di tengah ngobrol Andi sekali-sekali melirik dua tonjolan di dada Nila yang luar biasa ranum. Soal cewe, selera Andi memang yang memiliki dada besar. Ia sudah bersyukur punya Febiana yang berdada lumayan berisi, namun melihat Nila, rasanya rugi kalau diabaikan, membuat darahnya berdesir kencang.

Saat melihat dari jalan tadi, Andi menemukan Nila hanya memakai bathrobe mandi dan sedang menjemur handuk. Ia sempat diminta menunggu cukup absolutist oleh Nila karena harus berpakaian dulu. Harapannya, Nila keluar dengan pakaian lebih tertutup, tapi yang didapati adalah Nila hanya memakai catchbasin top putih yang memamerkan ceplakan branya dengan jelas hingga renda-renda di dalamnya berikut celana pendek yang membuat 3/4 pahanya terbuka.

“Eh, Nila, gue mo nanya nih….”

“Apaan?”

“Tapi jawab jujur ya….”

“Apaan dulu??

“Ya ini gue mo nanya?.”

“Oke, jujur….”

“Anak-anak Hukum sebetulnya risih ngga sih gue sering ngumpul bareng mereka.”

“Angkatan gue??

“Iya.”

“Jujur kan?…Ngga, yakin gue. Eh, tapi maksudnya ngumpul karena loe nemenin Febiana kan?”

“Iya.”

“Ya ngga sama sekali. Yang suka sama loe banyak kok.”

“Bener loe? Kalo cowo-cowonya gimana?”

“Ngga juga. Kenapa sih? Ya kalo ada batten yang dulu naksir Febiana tapi keserobot elo?hahahaha….”

“Sialan loe?, serius nih gue.”

“Gue juga serius. Bener kok, percaya deh sama gue.”

“Mereka, terutama yang cewe, malah yang gue tau pada keki sama Febiana.”

“Keki kenapa? emang salah gue apa?”

“Maksudnya keki soalnya Febiana dapet cowo kayak elo.”

“Emang gue kenapa?”

“Ya?loe kan sabar banget tuh mau nungguin Febiana, terus gabung sama kita-kita, maen bareng?”

“Gitu ya…?”

“Iya pak Andi. Nih ya, gue kasih bandingan: cowo gue yang dulu, itu sama sekali ngga mau gabung. Sebates nganterin gue aja. Sombong banget, kayak ngeliat apaan gitu kalo kita ngumpul. Ngga tau, pembawaan anak teknik kali ya, berasa pintar sedunia.”

Nila nyerocos tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius.

“Dulu gue tuh sering nahan hati soalnya cowo gue itu diomongin terus sama temen-temen gue. Sombong lah, belagu lah. Ya mereka sih ngomongnya baik-baik, minta gue ajak dia bergabung. Tapi cowo gue ngga mau gimana. Jadi serba salah kan?”

“Anak teknik? Dani maksud loe?”

“Betul pak! Dani. Mungkin juga karena ketuaan kali ya? Tapi ngga tau ah! Nah, ketika loe masuk dan mau mencoba berbaur. Temen-temen gue, ngga cewe ngga cowo, jelas seneng. Apalagi loe bisa nyambung. Yang cowo respek sama loe, yang cewe,….hihihi, demen.”

Nila sengaja hanya sampai kata itu. Sebetulnya ia ingin bilang ke Andi bahwa anak-anak, cewe-cewe tentunya, banyak yang naksir Andi.

“Demen apaan?” Andi berusaha memaksa Nila memperjelas omongannya sambil tergelak.

“Ya demen…ih, loe GR ya?” kata Nila sambil menunjuk Andi.

“GR apaan? kan gue cuman minta diperjelas,”

“Nih ya, ada satu temen gue yang bilang berharap banget loe putus sama Febiana. Katanya, gue mau deh, biar bekas temen juga…tuh…”

“Yang bener loe? Siapa?”

“Ngga usah gue kasih tau. Kalo perasaan loe peka, loe pasti tau deh! Eh, bener tuh, dalem hati loe pasti seneng juga kan disenengin cewe-cewe….hahaha.”

“Sialan loe!” balas Andi sambil terkekeh.

Tanpa sadar, Andi mendorong paha kiri Febiana. Sejak perkenalan pertama mereka saat ngumpul bersama teman-teman yang lain sepuluhan bulan yang lalu. Baru kali ini mereka benar-benar saling bersentuhan secara fisik. Meski sebuah sentuhan tanpa maksud apa-apa, tak kurang Nila tertegun sejenak. Syaraf sensorik di pahanya seperti mengalirkan sesuatu yang menbuatnya berdesir. Hampir tidak ada yang tahu, bagian yang didorong dan disentuh Andi justru bagian batten sensitif pada Nila, bagian yang mampu mengalirkan perasaan erotik dalam diri cewe berumur 20 tahun itu.

Nila berusaha tidak memandang mata Andi, tapi ia tak kuasa menahannya. Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat.

“Eh, Nila, apologetic ya kalo terlalu keras. Ngga sakit kan?”

Kali ini Nila malah berharap Andi kembali menyentuhnya. Desiran akibat sentuhan tak sengaja tadi benar-benar membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tapi, ia berusaha mengendalikan diri. Pahanya yang merinding tersentuh tangan Andi berusaha ia tutupi.

“Ngga kok Ndi, ngga papa, cuma kaget.”

“Aduh, gue jadi ngga enak. Bukan maksud gue mau lancang ke loe kok, Nila reflek aja.”

“Iya gue tau,” Nila berusaha menahan agar mulutnya tidak mengatakan bahwa bagian yang Andi sentuh adalah daerah batten sensitif dari tubuhnya.

Andi benar-benar jadi tidak enak dan salah tingkah. Nila bukan tidak menyadari hal tersebut. Ia kini paham, Andi memang bukan tipe cowo yang suka merayu perempuan, bukan cowo yang suka pegang-pegang perempuan sembarangan. Memang tidak salah teman-teman di kampusnya banyak yang suka pada Andi. Sikapnya admirer banget, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat. Dan, kenyataannya Andi memang benar-benar menyesal telah berlaku kasar, menurut ukurannya, kepada seorang perempuan. Ia adalah laki-laki yang batten tidak bisa berbuat kasar pada perempuan.

“Gue juga termasuk yang dongkol sama Febiana, kenapa gue justru nyambung sama cowo-nya…hahaha,” Nila berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan antic yang sejujurnya ngga lucu.

Andi pun tertawa meski masih agak dipaksa. Ia benar-benar merasa bersalah karena tanpa terkontrol menyentuh paha Nila terlalu dalam. Maksudnya hanya pengakuan ‘kekalahan’ karena didesak soal banyak perempuan yang menyenanginya. Sejujurnya ia juga suka Nila karena ia anggap perempuan yang suka bicara tanpa basa basi, apalagi dengan orang yang ia rasa bisa membuatnya nyaman. Sikapnya itu membuat Andi merasa lebih dekat dengannya, meski dengan dasar suka sebagai teman.

Dari sisi laki-laki, Andi juga terkesiap dengan sentuhannya itu. Ia jadi menyadari Nila memiliki tubuh yang kencang dengan kulit yang halus. Benar-benar membuat kelaki-lakiannya bangkit. Ingin rasanya berbuat lebih dari itu. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia juga sadar, situasi seperti ini sudah cukup sebagai tanda bahaya bagi dua insan berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan. Hanya ia juga tak kuasa dan tak mengerti bagaimana menghentikannya. Langsung pergi, jelas akan membuat Nila marah, ia bisa menangkap bahwa Nila tidak menginginkan itu.

Masih diliputi perasaan tak menentu dan membuatnya tertegun seperti patung, Andi terkejut ketika Nila sudah menjulurkan tangan dan meraih tangannya. Tapak tangannya digenggam kedua tangan Nila dan diarahkan ke bibirnya. Dalam keadaan terbuka, Nila menciumi perlahan-lahan permukaan telapak tangan kanannya. Andi benar-benar tegang bercampur kaget. Ia tahu itu sudah lebih dari sekedar pertanda Nila menginginkan sesuatu, lebih dari sekedar sentuhan tanpa sengaja. Nila pun bukan tanpa maksud seperti itu. Ia sadar antara dirinya dan Andi baru benar-benar kenal beberapa bulan belakangan. Tapi, akal sehatnya tak kuasa menahan keinginannya untuk disentuh lebih dalam oleh Andi.

Andi benar-benar bimbang. Ia tahu, Nila sudah membuka gerbang dan kini dialah yang harus memainkan bola. Semua ada di tangannya. Di antara bimbang untuk meneruskan, yang artinya ia dan Nila sudah melanggar komitmen pada pasangan masing-masing, atau menghentikan, yang artinya ia bisa kehilangan kesempatan merasakan sesuatu yang selama ini sering membuat badannya bergetar dan hanya ia lampiaskan pada Febiana, tangannya seperti bergerak sendiri membelai pipi kiri Nila. Jantung Andi berdegup kencang, bukan lagi takut Nila akan menolak, tapi sadar ia telah membuat sebuah pilihan penuh resiko tapi pasti sangat menyenangkan.

Nila tersenyum. Merasakan belaian lembut jemari Andi di pipinya. Andi pun bergerak menyisir leher dan tengkuk Nila. Sampai di punggung, tangan kirinya ikut merangkul Nila dan seketika keduanya sudah berpelukan. Nila membenamkan seluruh tubuhnya ke Andi. Pelukannya bahkan lebih kuat dari Andi dan pantatnya ia geser mendekat. Keduanya masih duduk di lantai beralaskan sebuah karpet tebal berwarna merah. Andi mengangkat wajah Nila perlahan. Ia bisa melihat Nila tersenyum bahagia merasakan kehangatan tersebut. Andi sadar, ia melakukannya bukan untuk mengejar perasaan Nila, tapi lebih pada nafsu. Nalurinya sebagai laki-laki berkata bahwa ini adalah kesempatan merasakan nikmatnya tubuh seksi Nila yang selama ini sudah ia kagumi. Dalam hati ia terus membatin untuk tidak tanggung-tanggung dan ragu. Ia bertekad menunjukkan pada Nila bahwa ia memang laki-laki sejati. Sambil mulai menjilati daun telinga Nila, Andi berusaha membisikkan kata-kata rayuan ke telinga Nila.

Glek! Mulutnya justru seperti terkunci. Semuanya sangat sulit untuk dikatakan. Balasan Nila hanya sebuah erangan manja berikut usapan halus disekujur punggung Andi. Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya yang merekah menyentuh bibir Andi. Halus, lembut dan perlahan penuh perasaan, keduanya saling mengulum bibir lawannya. Berpagutan dan saling bertukar lidah membuat suasana semakin hangat.

“Ndi…,” Nila berusaha mengontrol dirinya. Ia ingin terus merasakan belaian laki-laki yang dikaguminya itu.

Andi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia paham ini adalah titik kebimbangan Nila. Memaksa Nila menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya sama saja berpeluang menghentikan semuanya. Ia terus mencium Nila penuh kehangatan. Tangannya mulai menggerayangi sisi kiri tubuh Nila dan berbalik ke atas menuju sebuah bongkah daging keinginan setiap laki-laki. Ia mulai dengan meraba permukaannya halus dan meremasnya pelan. Persis seperti yang ia lakukan pada Wita, sahabatnya, beberapa tahun silam. Perbuatan berdasarkan naluri yang membuat ia dan Wita hampir mengakhiri persahabatan erat yang mereka bangun sejak masuk kuliah, runtuh hanya bersisa nafsu.

Andi seperti merasakan kembali sensasi itu. Sensasi bercumbu dengan perempuan yang rela menyerahkan tubuhnya secara absolute pada dirinya. Sesuatu yang justru tidak ia rasakan saat melakukannya pertama kali dengan Febiana. Status berpacaran membuat mereka mudah melakukan apapun seperti ciuman, pelukan, bahkan rabaan. Andai dulu ia mengabaikan pertanyaan Wita apakah mereka benar melakukan hal tersebut, ia dan Wita saat ini pasti sudah tak ubahnya dua insan yang saling mengejar nafsu. Tidak ada lagi keindahan persahabatan dan keagungan sebuah kedekatan yang tidak dilandasi nafsu, murni sebuah kasih sayang dua manusia yang saling membutuhkan.

Tapi dulu tindakannya tepat. Karena, ia dan Wita lebih membutuhkan hubungan tanpa berlandaskan nafsu birahi. Walaupun akhirnya ia dan Wita menghentikan semuanya sebelum keduanya bersatu dalam sebuah persetubuhan, perlu waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali landasan yang telah mereka hancurkan sendiri.

Kini, terhadap Nila, semuanya berbeda. Tidak ada halangan untuk melakukannya saat ini. Benar atau salah, itu soal nanti, karena saat ini nafsulah yang melandasi hubungan dirinya dengan Nila. Nila bukan teman dekatnya. Sejak awal ia tertarik pada Nila karena tubuh Nila yang menggoda iman. Kalau kemudian ia menjadi dekat dengan Nila karena sesuatu hal, itu tak ubahnya alat untuk masuk ke dalam perasaan Nila.

Remasannya ke dada Nila semakin kuat. Tanpa ragu, ia menyisipkan jarinya dari sisi atas untuk merasakan langsung lembutnya bongkahan indah itu. Nila mengerang dan berusaha mendekap Andi lebih kuat. Tangan Andi meremasnya makin kuat dan semakin ia merasakan betapa kencangnya dada Nila. Kencang, halus dan terawat. Ia pun kagum kepada Nila yang menyadari bahwa bagian tubuhnya yang sedang remas Andi adalah daya tarik utama dirinya, terbukti dari hasil perawatan yang dilakukannya itu. Sembari tangan kanannya meremas dada Nila, dan lidahnya menjilati leher Nila. Tangan kirinya membuka pengait bra di belakang. Sekali terbuka, kedua tangannya menyusup dari bawah dan mengangkat pakaian Nila melewati leher. Dan sekejab ia langsung bisa melihat bukit besar menantang itu langsung di depan matanya. Sejenak ia kembali mengagumi keindahan yang terpampang di depan matanya itu. Dua bongkah daging yang sejak setahun lalu membuat dirinya kerap tak bisa tidur. Tak berlama-lama puting susu Nila sudah menjadi sasaran mulutnya. Kuluman bibir, gigitan kecil additional sapuan lidah membuat Nila terlonjak tak bisa menahan diri. Badannya menegang setiap Andi menghisap putingnya. Ingin rasanya Andi mengecup kuat breadth di kulit yang menutupi tonjolan dada Nila, tapi ia sadar hal tersebut akan mempersulit posisi Nila. Apalagi Nila memohon dengan suara lirih.

“Jangan ada…bekasnya…Ndi….”

153489763

Dua bukit besar itu seperti mainan baru bagi Andi. Ia juga sering merasakannya dari Febiana, tapi yang disodorkan Nila dua kali lebih nikmat. Febiana juga keras dan kencang, tapi tidak sebesar Nila. Besar tapi masih proporsional. Ia bisa merasakan puting Nila menyentuh telinganya saat ia berusaha membenamkan kepalanya ke sela-sela di antara dua bukit tersebut.

Erangan pelan mulai terdengar keras keluar dari mulut Nila. Nafas Nila mulai memburu dan matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dan setiap isapan Andi di putingnya mengeras, kepalanya terlonjak ke belakang. Tangannya hanya bisa menekan kuat punggung Andi. Kendali dirinya benar-benar sudah hilang tertutup kenikmatan isapan dan sapuan lidah Andi di kedua payudaranya. Bahkan angin dingin khas kota Bandung yang kencang dari luar sudah tak terasa lagi di kulitnya. Tak hanya Nila yang terlena, Andi pun semakin bernafsu menggarap buah dada Nila yang menggairahkan itu. Sensasinya seperti mendapatkan sebuah mainan baru. Ia menjelahi setiap titik buah dada Nila tanpa terlewatkan. Ia ingin tahu reaksi apa yang diberikan Nila setiap ia menjelajah setiap permukaan buah dada itu.

Keduanya sedikit tersentak ketika pintu kamar Nila tertutup sendiri tertiup angin kencang dari luar. Andi terdiam dan memandangi Nila sesaat.

“Geblek, lupa ditutup….”

Andi langsung bangkit dan memeriksa keadaan di luar dari jendela, apakah ada mata-mata tersembunyi yang menyaksikan perbuatan mereka.

“Kunci Ndi…, sekalian korden…”

Sebut Nila dengan suara parau dan lemah.

Nila langsung menggamit lengan Andi dan memeluk laki-laki itu dan menempelkan keningnya ke dada bidang penuh bulu itu. Menunduk, ia bisa melihat puting buah dadanya menempel di atas perut Andi.

“Ndi…, tolong…,”

Ia melepaskan tangan Andi yang mengusap-usap halus punggungnya. Tangan kanannya membimbing tangan Andi ke arah selangkangannya. Ia merasakan sendiri sedikit demi sedikit kewanitaannya mulai basah mengalirkan cairan hangat. Ia tahu persis telah dihinggapi nafsu.

Sejenak Nila was-was. Ia takut Andi melakukannya tindakan bodoh seperti laki-laki lain yang tidak peduli fase-fase seksualitas wanita. Ia ingin dilayani juga sebagai makhluk yang juga memiliki nafsu. Selama ini, yang ia alami hanya melayani keinginan laki-laki tanpa ada balasan dari laki-laki itu.

Tapi kekhawatirannya segera lenyap saat Andi menyambut bimbingan tangannya dan mulai aktif menggerayangi daerah kewanitaannya. Dimulai dengan usapan lembut di atas daerah vaginanya yang masih tertutup dua lapisan, celana dan celana dalam. Dilanjutkan gosokan sedikit keras yang menekan alat genitalnya. Sekali lagi, saat Andi menyentuh paha bagian dalamnya, darahnya berdesir kencang, nafsunya semakin melonjak.

Aliran darah seketika seperti mengalir deras di tengah-tengah selangkangannya. Andi pun tak mau berlama-lama menunggu. Sekali tarik, ia meloloskan celana pendek dan celana dalam yang membuat Nila makin tak berdaya telanjang bulat. Tangan Andi mulai mengusap-usap klitoris dan bagian luar vaginanya. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari Andi mengenai alat kelaminnya itu. Dipadu permainan lidah di putingnya, Nila semakin lemah tak berdaya. Lututnya terasa lemas yang membuat Andi semakin mudah menjelajahi daerak kemaluannya karena menjadi terbuka.

Tak tahan melakukannya sambil berdiri, Nila memundurkan tubuhnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang. Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. Andi melepas sendiri kaus yang dikenakannya dan tak menyia-nyiakan pemandangan indah bibir-bibir vagina berwarna coklat muda yang terpampang di depannya. Bulu-bulu kemaluan Nila sangat terawat karena terlihat dari cukuran yang rapi. Bulu-bulu itu hanya tersisa di atas klitoris dan panjangnya tidak ada yang melebihi satu milimeter.

Sambil memeluk pinggang Nila dengan tangan kiri, ia mulai memainkan jari kanannya di seluruh permukaan kewanitaan Nila. Pengalaman dengan Febiana mengajarkannya untuk tidak langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Ia lebih mementingkan usapan di klitoris. Dengan ibu jari dan jari tengah, ia membuka kulit penutup klitoris. Jari telunjuknya mulai meraba-raba permukaan klitoris yang menyembul berwarna merah muda. Lonjakan pantat Nila terasa kuat setiap ia mengusap klitoris itu dibarengi erangan keras dari mulut Nila. Nila meremas-remas sendiri buah dadanya. Ia menahan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya.

Puas jemarinya memainkan klitoris Nila, lidahnya mulai bergabung. Setiap jilatan sanggup membuat Nila menjerit. Kedua pahanya berusaha menjepit kepala Andi yang membuat Andi semakin ganas memainkan lidahnya. Sesekali permainan itu ia gabung dengan isapan keras klitoris Nila. Tak usah ditanya reaksi Nila karena perempuan muda itu semakin berisik mengeluarkan erangan dari mulutnya.

Rasanya memang gila permainan mereka, karena jika erangan Nila terdengar sampai keluar, entah apa yang akan terjadi.

Andi sudah mengarahkan lidahnya turun menuju vagina Nila ketika Nila menahan tubuh Andi dan bangkit meraih kancing celana Andi dan melepasnya. Bersama celana dalam, satu sorongan ke bawah langsung menjulurkan batang kemaluan Andi yang sudah mengacung sejak tadi. Nila tahu, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bersama dan kini gilirannya membelai, mencium, menjilat, dan meremas milik Andi. Tak canggung ia menggenggam penis Andi yang mengacung keras. Kedua tangannya mengenggam bersama, terasa besar dan penuh penis itu memenuhinya.

Satu kocokan, kini giliran Andi yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangan halus nan hangat itu. Dari bawah, Nila melirik ke atas dan tersenyum kepada Andi yang berlutut di kasur. Ia paham arti senyum balasan Andi. Tanpa berlama-lama lagi, ia lumat batang tersebut di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, ia jilat seluruh permukaannya yang mengkilat itu. Urat-urat di sekujur penis Andi semakin membuat nafsunya memuncak. Ingin rasanya segera merasakannya merayap di dinding vaginanya. Andi terengah merasakan isapan dan kulumannya. Masih ada sedikit rasa dongkol pada Febiana, kenapa temannya itu yang bisa mendapatkan laki-laki yang mampu menggetarkan hati setiap wanita itu. Di tengah usahanya memasukkan seluruh batang kemaluan Andi kemulutnya, Nila hampir tersedak karena ujung kemaluan Andi menyentuh pangkal rongga mulutnya sementara di luar masih tersisa. Ia semakin bernafsu mengulum penis ini. Pelan tapi pasti ia keluar masukkan penis itu di mulutnya. Lidahnya ia sentuhkan ke ujung penis yang kokoh itu. Ia paham laki-laki amat senang diperlakukan seperti itu. Terlihat dari paha Andi yang semakin terbuka membuat penisnya makin mengacung kencang. Seketika ia melihat penis Andi, Nila langsung merasakan rangsangan semakin besar dalam dirinya. Tanpa ragu ia berusaha memberikan pelayanan sempurna pada Andi, laki-laki yang sanggup membuatnya panas dingin meski hanya beradu pandang. Ia ingin Andi merasakan kenikmatan terdalam pelayanan perempuan.

Nila memang tidak salah karena Andi pun mulai merasakan apa yang diharapkannya. Baru kali ini Andi merasakan perlakuan absolute perempuan selain Febiana terhadap dirinya. Apalagi saat Nila mulai menjilati dan mengulum kantung buah zakarnya. Semuanya terasa berbeda, benar-benar sensasi yang memabukkan. Selain merasakan nikmatnya kuluman dan isapan Nila, pemandangan indah sekaligus ia dapatkan. Posisi Nila yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang ke atas. Pasti nikmat membenamkan penisnya ke kemaluan Nila sekaligus menggenggam dan mengusap pantat yang padat dan berisi itu.

Nila merasa belum cukup ketika Andi menarik lengannya. Tapi, ia mengikuti saja keinginan pujaan barunya itu dan menyambut kecupan hangat Andi di bibirnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menarik Andi. Nila sudah tahu kelakuan laki-laki. Jika sudah menarik dan merebahkan tubuh perempuan berarti laki-laki itu sudah ingin melakukan penetrasi.

Namun, dugaannya meleset. Andi justru merebahkan badannya di sisi Nila. Berbaring miring, Andi mengisap lagi buah dadanya. Nila semakin kagum akan laki-laki yang satu ini, benar-benar penuh kendali diri. Ia semakin kaget ketika jemari Andi mulai bermain lagi di sekitar kemaluannya. Kali ini usapannya sedikit keras dan cepat menggosok klitorisnya. Nila menggelinjang menerima perlakuan Andi. Benar-benar laki-laki penuh misteri, pikirnya.

Laki-laki sempurna, pikir Nila menyadari betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan Andi seperti sekarang. Bisa mendapatkan lagi sesuatu yang dulu hilang direnggut kejamnya Dani terhadap dirinya. Kalau saja ia tahu Dani hanya mempermainkannya saat itu, tidak akan ia mau menyerahkan semua kehormatannya kepada laki-laki brengsek pengecut itu. Rasanya muak hatinya mendengar semua orang membicarakan perkawinan Dani saat ia baru dua bulan memadu kasih dengan laki-laki keparat itu.Untung Boy hadir sebagai penyelamat. Ia sayang pada laki-laki ini, tapi kadang perasaannya tak tega melihat kebaikkan hati Boy.

Tapi kali ini ia ingin absolute merasakan kehangatan Andi. Kekagumannya membuat ia semakin senang akan apa yang dilakukan Andi padanya saat ini. Menikmati usapan jemari Andi yang cepat itu membuatnya ia sanggup melupakan semua pikirannya pada dua laki-laki yang telah sempat mengisi relung hatinya.

Di tengah lonjakan-lonjakan kecil menikmati permainan Andi, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya sebuah rambatan energi tiada tara yang membuat sejenak dirinya seperti melayang. Suara-suara di sekitarnya seketika seperti lenyap, hanya terasa desiran tiada tara yang membuat tubuh sempat terbujur kaku sejenak dan berikutnya terlonjak-lonjak demikian kuat yang semakin absolutist semakin melemah frekuensi dan intensitasnya. Matanya terpejam, ia baru saja merasakan sensasi terbesar yang belum pernah sekalipun ia rasakan dengan laki-laki lain. Liang vaginanya pun terasa berdenyut lebih kuat dan saat semuanya belum mereda, Andi sudah menindih tubuhnya. Ia bisa merasakan bobot tubuh Andi terutama di bagian bawah pinggangnya. Tangan Andi sudah tegak di sisi buah dada Nila kekar menopang badannya sendiri. Ia bisa merasakan bagian tubuh bawah Andi bergerak-gerak berusaha mengarahkan acungan penisnya. Nila pun langsung meraih penis nan kokoh itu dan membimbingnya ke ujung vaginanya.

Andi tersenyum dan Nila membalasnya dengan senyuman manis diiringi anggukan penuh kepasrahan tanpa paksaan. Terasa Andi mendorong kuat pantatnya dan Nila juga bisa merasakan rengsekan batang kemaluan Andi di dinding vaginanya. Sungguh halus dan penuh perasaan Andi memasukkan penisnya ke vagina Nila. Perlahan cairan di dalam vagina melumasi permukaan penis Andi. Tak ada rasa sakit sama sekali meski penis tersebut lebih besar ketimbang milik Dani dan Boy. Itu karena Andi melakukannya tanpa terburu-buru dan tanpa memaksa. Mulai terasa perih ia menarik kembali penisnya sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh penisnya dilumat vagina Nila. Sodokan pertama penis tersebut masuk seluruhnya sanggup menyentuh bagian dalam vagina Nila yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Nila pun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, Andi tidak langsung memompa pantatnya cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, ia menahannya dan memandangi wajah Nila dan kali ini ditambah sebuah kecupan mesra. Nila seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu. Ia merasa dirinya demikian berharga di hadapan Andi,

Andi sendiri merasa telah memenangi sebuah peperangan. Penisnya yang sudah bersarang di vagina Nila adalah sebuah tanda babak baru hubungannya dengan Nila yang tidak akan mudah dikembalikan seperti sedia kala. Bersatunya kedua tubuh mereka adalah sebuah ikatan emosi yang hanya bisa dirasakan oleh Andi dan Nila, tak seorangpun bisa merasakan itu.

Setelah itu, mulailah Andi menggerakkan pantatnya mengangkat dan menekan yang membuat penisnya keluar masuk bergesekan dengan liang vagina Nila. Hangat dan lembut bisa Andi rasakan lewat sekujur penisnya dari dalam vagina Nila.

Nila menyambut setiap gerakan Andi dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dari mulutnya keluar erangan yang semakin absolutist semakin keras dan cepat berirama. Melihat Nila terpejam dan mengerang dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mendongakkan kepala membuat Andi makin bernafsu. Nila semakin seksi dalam kondisi seperti itu. Lehernya yang putih dan guncangan kuat pada buah dadanya membuat Andi semakin ingin membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Nila. Apalagi setiap ujung penisnya menyentuh pangkal vagina Nila. Rasanya sungguh tiada tara. Derit ranjang mulai terdengar seiring semakin kuatnya sodokan Andi. Tapi mereka sudah tidak peduli. Nila bukan tidak menyadari seseorang pasti ada yang mendengar deritan tersebut di bawah. Apalagi kalau teman kost yang menempati kamar di bawahnya sedang berada di kamar. Tapi ia yakin semua temannya akan maklum.

Semakin kuat dan cepat sodokan Andi membuat Nila merasakan lagi desakan rasa luar biasa yang akan tiba. Ia hanya bisa mencengkram punggung Andi keras-keras ketika desiran itu semakin kuat dan mencapai puncak. Kepalanya benar-benar mendongak ke atas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah sampai, sekali lagi ia merasakan tubuhnya ringan dan aliran darah mengalir deras ke arah vaginanya. Dinding vaginanya berdenyut kuat hingga Andi juga bisa merasakannya. Andi langsung menghentikan gerakannya membiarkan penisnya merasakan cengkraman kuat yang terjadi hanya beberapa detik itu. Tindakan Andi juga membuat Nila merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan vaginanya tertahan penis Andi yang sedang membenami kemaluannya itu. Semakin banyak saja kekaguman Nila pada Andi. Tahu kapan ia akan merasakan puncak kenikmatan dan menghentikan sodokan membuat Nila bisa merasakan sepenuhnya kenikmatan tersebut. Sebuah teknik bercinta yang baru kali ini Nila rasakan.

“Andi…,nikmat sekali…,”

Nila memeluk Andi kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundak laki-laki itu. Sekali lagi Andi tersenyum membalas Nila.

“Enak?”

“Banget!” Jawab Nila singkat dan tegas.

“Gaya lain…?”

Nila langsung mengangguk dan menunggu aba-aba Andi gaya apa yang diinginkan Andi.

Andi membalik badan Nila dan mengangkat badan bagian bawah Nila dengan memeluk pinggang dari belakang. Nila langsung berdebar-debar begitu tahu Andi ingin melakukan gaya doggy. Missionari saja sudah sanggup mencapai pangkal vaginanya, apalagi doggy.

Tak menunggu absolutist Andi langsung memasukkan penisnya. Nila menunduk sambil menggigit bibirnya merasakan seluruh penis Andi terbenam makin dalam di vaginanya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat Andi semakin tak bisa mengendalikan birahinya. Kali ini Andi langsung mendorong dengan cepat dan Nila mengikuti irama dengan mendorong pantatnya ke belakang. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih dalam.

Masuk hitungan belasan menit menyodok vagina Nila, belum ada tanda-tanda dorongan Andi melemah. Sebaliknya justru makin kuat, membuat Nila makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi keduanya, namun baik Nila dan Andi justru makin bersemangat. Nila, yang bisa dua kali beruntun merasakan kenikmatan puncak saat disodok Andi dari belakang justru semakin ingin merenguk terus kenikmatan itu. Pantat dan pinggangnya makin bergerak cheat membuat Andi tak mampu menahan lenguhannya.

Tiba-tiba ganti Nila yang berinisiatif. Ia lepaskan penis Andi dari vaginanya dan mendorong Andi sampai terlentang. Ia langsung memanjat tubuh Andi dan duduk di atas acungan penis Andi yang masih kokoh berdiri. Melihat Nila bergerak naik turun, Andi tak kuasa untuk tidak meremas buah dada Nila yang terguncang-guncang. Telapaknya yang besar berusaha meraup seluruh permukaan buah dada itu, tapi tidak pernah berhasil. Remasannya makin kuat membuat Nila makin mempercepat gerakannya.

Sekali lagi Nila harus mengaku kalah. Karena meski ia telah mencoba berbagai goyangan yang dipadu dengan gerakan naik turunnya, justru ia yang kembali merasakan desakan kenikmatan dari liang vaginanya. Nila langsung ambruk menindih Andi yang sudah siap menerimanya dengan pelukan mesra dan kecupan hangat di ubun-ubunnya.

“Kamu kuat banget Ndi…”

“Kamu di bawah lagi ya…?”

Nila mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kanan Andi.

Sebelum Andi memasukkan lagi penisnya ke vagina Nila, Nila memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada laki-laki manapun yaitu memasukkan penis tersebut ke mulutnya. Sebelumnya ia tidak mau mengulum penis yang sudah masuk ke vaginanya. Tapi, untuk Andi, yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara, ia lakukan itu.

Puas mengulum dan menjilati penis yang dipenuhi lendir sisa persetubuhan mereka, Nila kembali merebahkan dirinya dan menyuruh Andi memulai lagi aksinya. Andi langsung bergerak dan dorongan seperti saat pertama mereka memulainya yaitu perlahan dan terus semakin absolutist semakin kuat dan cepat. Nila sudah pasrah kalau ia harus sekali lagi merasakan orgasme, tapi baru ia berpikirbegitu, tiba-tiba sodokan Andi terasa lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian Andi mengerang panjang dan menyodokkan penisnya sangat kuat beberapa kali. Nila pun bisa merasakan hangatnya muncratan sperma Andi di dalam vaginanya. Andi masih terus menyodok terputus-putus dan semakin melemah. Sperma Andi juga Nila rasakan mengalir keluar setiap Andi menyodokkan lagi penisnya. Setelah benar-benar selesai, Andi pun ambruk menindih Nila. Andi terdiam sesaat di atas buah dada idamannya itu merasakan betapa nikmat persetubuhannya dengan Nila.

Nila mengusap lembut kepala Andi penuh kehangatan.

“Puas Ndi…?”

Andi hanya mengangguk. Badannya terasa lemas. Nila tersenyum bahagia mendapatkan jawaban Andi. Batten tidak, tekadnya membuat Andi merasakan kenikmatan tertinggi berhasil ia lakukannya.

“Nila, nikmatnya benar-benar ngga ada yang nyamain…”

“Kamu juga hebat Ndi. Baru kali ini aku ngerasain orgasme….”

Keduanya pun duduk berdampingan di sisi ranjang. Nila merebahkan kepalanya di pundak Andi. Sambil membakar rokok, Andi merangkul Nila. Keduanya hanya bisa terdiam dan sama-sama tidak percaya apa yang baru saja terjadi di antara mereka.

Nila masih tidak percaya ia telah melakukan hubungan seks dengan Andi, pacar Febiana, teman satu angkatannya. Meski ia memang sudah kagum pada Andi sejak pertama berkenalan, tapi akhirnya sampai berhubungan intim dengan Andi, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Andi, walaupun ia juga tertarik pada Nila diawali oleh ketertarikan fisik, tetap saja apa yang baru saja ia alami benar-benar di luar dugaannya. Apalagi Nila seperti menyambut keinginan terpendam Andi itu yang sebetulnya ia simpan dalam-dalam. Ia kenal Boy dan tahu bagaimana Boy selalu menerima sarannya dalam hal aktifitas di kampus. Ia juga tahu Boy sangat menghormatinya terutama sebagai chief meski beda fakultas.

Dalam diamnya, Nila tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Febiana yang terkenal emosional di kampus. Serupa dengan Nila, Andi juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada Boy jika ia tahu apa yang dilakukannya dengan Nila. Boy memang pendiam dan tenang, tapi Andi tahu Boy adalah orang yang keras.

Andi mengeratkan rangkulannya pada Nila. Nila pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Tapi Andi tak membalasnya yang membuat Nila bingung.

“Kenapa…?”

Andi menggeleng sambil tersenyum dan mengecup kening Nila dan mendekap Nila lebih dalam.

“Yuk ke kampus…,” ajak Andi sambil melepas pelukannya.

Nila mengangguk sambil tersenyum. Berpakaian, kedua lantas keluar kamar bersikap biasa. Andi lebih dulu menuju motornya di lantai bawah.

“Bareng aja…,” sahut Andi.

“Oke!”

Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Keduanya tak sadar telah dua jam bercumbu dan berhubungan intim. Kalau sesuai janji, Andi sebetulnya sudah terlambat. Dan memang benar, saat tiba di kampus FH, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus.

“Bareng Nila?” Tanya Febiana tanpa curiga.

“Iya, tadi ketemu di jalan, ya sekalian aja.”

“Tunggu bentar ya, 10 menit lagi.”

“Oke, aku tunggu di sini ya.”

Di tempatnya duduk, Andi melihat Nila berdiri di samping Boy. Boy masih sibuk membahas beberapa masalah dengan teman-temannya. Nila pun melirik ke arah Andi dan memberikan sebuah senyum yang manis. Keduanya memang harus kembali bersikap normal, tapi di hati kecil mereka, baik Andi dan Nila sama-sama berharap kejadian yang mereka alami terulang lagi?

Advertisement